Senin, 23 November 2015

OPINI: Wanita dalam Islam



Manusia terlahir dengan mengemban kewajiban sebagaimana layaknya manusia lain. Namun di sisi lain, manusia juga terlahir membawa hak-hak yang bisa dipenuhinya, atau bahkan dituntutnya. Hak-hak dasar bawaan manusia itulah yang kemudian disebut sebagai Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Hak-hak tersebut berupa hak untuk hidup, hak untuk memilih, hak untuk berbicara dan banyak hak lain yang bersamaan dengan kewajiban, bahu membahu menemani manusia semasa hidupnya. HAM tersebut jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan masalah di lini kehidupan pemilik HAM. Sama halnya dengan kewajiban jika tidak dilaksanakan akan menimbulkan masalah. Keduanya harus seimbang dan saling melengkapi, tidak berat sebelah atau malah saling memberatkan.
            Untuk masalah HAM, saya pikir Islam adalah agama yang menjunjung nilai luhur tersebut. Islam memang memiliki kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim namun setelah kewajiban itu ditunaikan, maka setiap yang menjalankannya berhak mendapatkan hak-haknya. Ironisnya, beberapa orang masih berpikiran skeptis dan apatis tentang Islam dan mengatakan Islam adalah agama yang menindas dan memberatkan, khususnya untuk kaum wanita, yang dianggap terlecehkan dan tertekan oleh hukum Islam yang kata mereka konservatif.

Minggu, 08 November 2015

Ruang Dingin

Ruangan ini begitu dingin dan mencekam. Baru beberapa menit aku sudah menggigil kedinginan, bulu kudukku berdiri. Apakah harus sedingin ini agar kau dan teman-temanmu bisa tidur dengan nyenyak?
            Tidak ada apa-apa di ruangan ini selain lusinan rak besi yang dipasang menempel di dinding-dinding bertumpuk-tumpuk. Sebuah meja besi yang telah berkarat karena korotasi dan kursi lipat yang sandarannya terkelupas adalah benda lain di sudut ruangan itu. Tiga pendingin ruangan berhasil membekukan ruangan yang hanya berukuran 5x5 meter.
            Aku menggeret kursi dari sudut ruangan yang menimbulkan bunyi berdecit, aku tidak peduli, toh di ruangan ini hanya ada kita berdua. Teman-temanmu sedang tidur, bukan? Akan sangat tidak menyenangkan jika membangunkan mereka.
            “Apa kau tidak kedinginan?” tanyaku ketika mendapatimu telanjang bulat dan hanya terbungkus selimut tipis berwarna putih kusam. Aku merapatkan ikatan parkaku dan memasukkan tangan ke kedua saku.
            “Aku rasa kau sudah tahu alasanku datang kemari. Oh, tentu saja aku tidak akan membahas masalah itu, tidak akan. Kau pasti tidak suka mendengarnya, aku pun bosan harus terus bercerita kepada banyak orang tentang masalah itu. Lagipula itu sudah berlalu, dan kau sudah berada di sini. Jadi..” aku berdehem sebelum melanjutkan,”..biar aku saja yang mengurusnya. Tidak usah khawatir. Percayalah padaku.” Kau tidak bergeming, bahkan tidak mengisyaratkan tanda-tanda persetujuan atau penolakan.

OPINI: Islam Agama Perdamaian


Pasca kejadian runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001 silam, stigmatisasi terhadap Islam semakin meluas. Tidak hanya tentang agama, namun juga menyentuh ranah politik dan sosial. Islam dilabeli dengan cap negatif, identik dengan kekerasan dan agama yang mencederai hak-hak asasi manusia. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang barbar, tidak manusiawi dan kolot. Pandangan-pandangan seperti itu tersebar di berbagai media massa dan cetak. Saking masifnya hingga bisa membentuk opini publik bahwa Islam itu kasar. Amerika dan sekutunya bisa jadi menjadi pionir dalam pembentukan stigmatisasi Islam yang negatif, namun, yang tak kalah menarik adalah peran kelompok Islam radikal turut berpengaruh, dan kita tidak sadar akan hal itu. Amerika telah sukses melabeli Islam dengan terorisme dan kekerasan, lalu muncul kelompok-kelompok radikal ekstrimis Islam yang seakan menjustifikasi stigma tersebut. Kelompok tersebut berpegang teguh pada syari’at Islam, dan menafsirkannya secara mentah-mentah. Hingga akhirnya menyuarakan pendapat agar menolak segala sesuatu yang datang dari Barat, anti- Amerika, lawan imperialisme, perangi kaum kafir dan lain sebagainya. Kelompok tersebut menasbihkan diri sebagai pembawa agama paling benar −Islam− dan menganggap selain Islam adalah agama sesat, menyimpang dan kafir.

OPINI: Romantisme Israel dan Palestina


Konflik antara Israel dan Palestina sudah bergema sejak beberapa tahun yang lalu. Banyak yang mempertanyakan asal muasal dari konflik berkepanjangan ini. Ada yang mengatakan konflik ini adalah konflik agama, perseteruan klasik antara Islam dan Yahudi untuk memperebutkan klaim atas tempat suci masing-masing. Islam dengan Masjid al-Quds sementara Yahudi dengan tembok ratapannya. Bahkan ada yang mengkaji secara historis alasan di balik invasi bangsa Yahudi, yaitu keinginan mereka untuk menemukan kembali Kerajaan Sulaiman yang merupakan nenek moyang mereka. Namun di satu sisi ada yang berargumen bahwa ini adalah konflik politik murni. Dengan sokongan Amerika, baik materi dan non-materi, Israel berusaha meraih klaim atas tanah Palestina agar memudahkan Amerika dan sekutunya dalam menguasai wilayah Timur Tengah. Karena wilayah Palestina yang strategis secara geopolitik, maka Amerika mendukung penuh setiap aksi Israel dan kebalikannya, mencap Palestina dan pasukan pembela tanah airnya teroris. Sekali lagi Amerika menggunakan kekuatan medianya untuk memenangkan hati warga dunia.