Minggu, 08 November 2015

Ruang Dingin

Ruangan ini begitu dingin dan mencekam. Baru beberapa menit aku sudah menggigil kedinginan, bulu kudukku berdiri. Apakah harus sedingin ini agar kau dan teman-temanmu bisa tidur dengan nyenyak?
            Tidak ada apa-apa di ruangan ini selain lusinan rak besi yang dipasang menempel di dinding-dinding bertumpuk-tumpuk. Sebuah meja besi yang telah berkarat karena korotasi dan kursi lipat yang sandarannya terkelupas adalah benda lain di sudut ruangan itu. Tiga pendingin ruangan berhasil membekukan ruangan yang hanya berukuran 5x5 meter.
            Aku menggeret kursi dari sudut ruangan yang menimbulkan bunyi berdecit, aku tidak peduli, toh di ruangan ini hanya ada kita berdua. Teman-temanmu sedang tidur, bukan? Akan sangat tidak menyenangkan jika membangunkan mereka.
            “Apa kau tidak kedinginan?” tanyaku ketika mendapatimu telanjang bulat dan hanya terbungkus selimut tipis berwarna putih kusam. Aku merapatkan ikatan parkaku dan memasukkan tangan ke kedua saku.
            “Aku rasa kau sudah tahu alasanku datang kemari. Oh, tentu saja aku tidak akan membahas masalah itu, tidak akan. Kau pasti tidak suka mendengarnya, aku pun bosan harus terus bercerita kepada banyak orang tentang masalah itu. Lagipula itu sudah berlalu, dan kau sudah berada di sini. Jadi..” aku berdehem sebelum melanjutkan,”..biar aku saja yang mengurusnya. Tidak usah khawatir. Percayalah padaku.” Kau tidak bergeming, bahkan tidak mengisyaratkan tanda-tanda persetujuan atau penolakan.

            “Aku anggap itu sebagai iya,” jawabku sekenanya.
            Ada keheningan yang mendadak mengisi ruangan ini. Dengan dirimu yang masih betah diam dan aku seperti berbicara dengan tembok. Aku berharap mendapatkan satu respon sederhana darimu tapi itu mustahil. Tentu saja. Mustahil. Suara bising dari pendingin ruangan mungkin menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, selain nafas beratku yang mencari udara hangat. Aku memeluk diriku sendiri, mencari kehangatan di antara gesekan-gesekan tanganku. Aku mengutuk diriku yang lupa membawa sarung tangan, padahal aku pernah memasuki ruangan ini sebelumnya, mungkin, tiga atau empat bulan yang lalu sebelum akhirnya kau tiba di sini. Namun aku hanya berada di sini selama sepuluh menit untuk mengunjungi seorang kolega bersama rekanku di kepolisian, Andi.
            “Ah, aku baru ingat, Andi akan melaksanakan pernikahannya minggu depan,” kataku setelah teringat akan undangan pernikahannya dengan rekan sesama polisi yang ia temui ketika bertugas di luar kota. Di undangan itu, tertulis nama belakangku, dengan imbuhan Bapak dan Ibu, yang berarti, juga namamu, Nyonyaku.
            “Dia berkoar tentang mengundang salah seorang artis ibu kota yang paling tersohor. Aku harap itu bukan artis yang menyogoknya untuk memuluskan langkah artis itu keluar dari jeruji penjara, haha.” Tawaku ketika mengingat betapa aku pernah membenci rekanku itu ketika menerima sogokan senilai puluhan juta rupiah. Aku dan Andi bahkan sempat beradu moncong pistol karena kejadian itu. Aku berusaha menghentikannya dan dia bersikeras untuk menerima uang itu. “Dengan uang ini aku dan Anya bisa menikah!” katanya beralasan. Betapa naifnya Andi saat itu. Betapa konyol alasan yang digunakannya. Gajinya sebagai polisi selama setahun saja mungkin lebih dari cukup untuk menggelar pesta pernikahan di sebuah ballroom hotel bintang empat.
            “Aku tidak menyangka junior sepertinya akhirnya menikah juga. Meskipun dia belum mencapai puncak karir di kepolisian. Kita hanya bisa berdoa para kriminal itu tidak mengincar Anya,” kataku. Anya adalah seorang polisi baru di angkatan. Lulus dari akademi dengan nilai yang biasa saja, dia ditempatkan sebagai polisi lalu lintas yang secara tidak sengaja berada di TKP pada waktu yang salah. Hingga kemudian datang Andi atas perintah komandan untuk mengusut kasus itu dan bertemu Anya. Saat itu, kami baru saja menyelesaikan satu kasus penculikan yang berujung pada pembunuhan sadis. Pembunuhan itu sempat menggegerkan kota, aku bahkan menyuruhmu untuk mengungsi ke rumah orang tuamu untuk sementara waktu. Lima bocah berusia enam sampai sembilan tahun lenyap, dan beberapa hari kemudian ditemukan di sebuah sungai dengan kondisi badan yang berlubang di bagian dada. Jantung mereka hilang. Aku dan Andi mengusut kasus itu hingga berbulan-bulan lamanya agar dapat menemukan pelakunya. Andi sangat syok dengan kasus itu. Sebagai junior, dia belum pernah berhadapan dengan psikopat sadis dan melihat tubuh yang sedemikian rusaknya. Lalu datang instruksi dari komandan untuk bertugas di kota tetangga dan Andi mengambilnya sebagai langkah untuk menjauh dari kota berdarah ini. Setidaknya untuk sementara waktu menyegarkan otaknya dari psikopat.

Aku mengelus rambutmu yang kusut, sepertinya sejak pindah di sini kau kurang terawat. Tanganku menuruni rambutmu, lalu ke pipimu. Kusentuh bibirmu yang pucat dan kering, rasanya, baru kemarin aku merasakan bibir itu memagut bibirku. Turun ke lehermu yang jenjang, aku sedikit menekan bekas lebam berwarna keunguan di lehermu. Rasanya, baru kemarin aku mengecup leher itu dan sedikit menggigitnya. Tak tahan, aku membenamkan kepalaku dan melingkarkan tanganku di lehermu.
            “Kau tidak perlu khawatir. Kau tidak perlu khawatir. Aku ada di sini sekarang. Aku di sini. Kau tidak perlu khawatir,” aku berusaha menenangkannya, padahal, jantungku berdegup sangat kencang. Badanku gemetar, entah karena dingin atau yang lain. Seharusnya, aku yang harus tenang sekarang.
            “Aku akan menemukannya. Aku akan menemukannya. Dan hingga saat itu tiba aku tidak akan pernah berhenti. Aku berjanji. Kau tidak perlu khawatir. Tenanglah, aku akan selalu ada untukmu.”
            Nafasku berat dan cepat, seakan aku telah berlari ratusan kilometer. Aku mulai tenang dan bisa menguasai diri, aku tidak boleh terbawa emosi saat ini. Yang aku butuhkan adalah ketenangan. Aku tidak datang kemari untuk membuatmu takut, aku datang kemari untuk mengunjungimu. Aku tidak boleh terbawa emosi. Aku harus professional.
            Aku tidak menghitung berapa lama aku sudah berada di sini, yang jelas, lebih dari sejam, mungkin dua jam. Ah, aku tidak tahu. Waktu tidak lagi berpihak. Jika memang demikian, kau tidak akan berada di sini, bukan? Kau akan berada di rumah, bermain piano klasik seperti biasanya. Kau akan memainkan nada-nada indah dari instrumen favoritku, dengan lihai jemarimu menekan tuts dan melantunkan irama dari Pachelbel Canon. Jika memang demikian kau akan berada di rumah, bersandar pada ranjang dan menggodaku untuk segera masuk dalam selimut. Pada kenyataannya, tidak.
            Aku menggandeng tanganmu dan menemukan cincin kawin kita masih terpagut di jari manismu. Aku tersenyum sendiri, dan semakin memantapkan tekadku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku pun berjanji pada diriku sendiri. Mendadak memori-memori itu terlintas di benakku. Tentang pertemuan kita, kebodohan yang kita lakukan, hal-hal sok romantis yang kucoba untuk memenangkan hatimu. Tentang bagaimana aku bertemu denganmu karena salah masuk toilet. Aku begitu mabuk hingga tak dapat melihat tanda di toilet dengan jelas. Aku ingat sensasi sakitnya pukulan tasmu di kepalaku untuk mengusir bajingan mesum sepertiku. Pukulan yang membuatku jatuh cinta pada gadis kuat sepertimu. Aku juga ingat tentang bagaimana aksi heroikku untuk membuatmu terkesan. Kasus pembajakan bis empat tahun yang lalu. Aku menyelamatkanmu dari todongan senjata pembajak bis itu, yang harus dibayar mahal karena luka tembak di kakiku membuatku pincang selama dua bulan lebih. Namun tak apa, karena sejak saat itu kau mulai melihatku. Kau mulai menganggap diriku sebagai seorang pria saja, tanpa embel-embel ugal-ugalan ataupun panggilan polisi badung. Aku mengingat pernikahan sederhana kita di rumah orang tuamu. Aku yang paling banyak menangis, tidak menyangka akan menikahi seorang gadis cantik, kuat, dan cerdas sepertimu. Kau bahkan rela menunda sidang skripsimu agar kita dapat berbulan madu. Aku ingat semprotan amarah dari atasanku ketika mengetahui aku memperpanjang masa cutiku menjadi tiga bulan untuk menikmati waktu sebagai seorang suami bagimu.
Sedikit lagi ingatan itu muncul maka aku akan banjir oleh tangisan. Aku tidak boleh emosional, aku harus professional. Aku beranjak dan mengembalikan kursi itu ke tempat semula. Merapikan posisinya yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk dilakukan karena tidak ada yang peduli. Kukecup kening dan pipimu untuk terakhir kalinya sebelum beranjak menuju pintu keluar. Aku akan merindukan bibir itu.
Kuputar kenop pintu yang dingin itu, dan melihatmu untuk terakhir kalinya. “Selamat tinggal, istriku,” hanya itu yang dapat kukatakan sebelum aku melesat keluar dari ruang dingin bertuliskan kamar mayat itu dan meninggalkan jasadmu di sana untuk beristirahat selamanya.
Istriku, aku akan mengusut tuntas kasus kematianmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar