Ruangan ini
begitu dingin dan mencekam. Baru beberapa menit aku sudah menggigil kedinginan,
bulu kudukku berdiri. Apakah harus sedingin ini agar kau dan teman-temanmu bisa
tidur dengan nyenyak?
Tidak ada apa-apa di ruangan ini
selain lusinan rak besi yang dipasang menempel di dinding-dinding
bertumpuk-tumpuk. Sebuah meja besi yang telah berkarat karena korotasi dan
kursi lipat yang sandarannya terkelupas adalah benda lain di sudut ruangan itu.
Tiga pendingin ruangan berhasil membekukan ruangan yang hanya berukuran 5x5
meter.
Aku menggeret kursi dari sudut
ruangan yang menimbulkan bunyi berdecit, aku tidak peduli, toh di ruangan ini
hanya ada kita berdua. Teman-temanmu sedang tidur, bukan? Akan sangat tidak
menyenangkan jika membangunkan mereka.
“Apa kau tidak kedinginan?” tanyaku
ketika mendapatimu telanjang bulat dan hanya terbungkus selimut tipis berwarna
putih kusam. Aku merapatkan ikatan parkaku dan memasukkan tangan ke kedua saku.
“Aku rasa kau sudah tahu alasanku
datang kemari. Oh, tentu saja aku tidak akan membahas masalah itu, tidak akan.
Kau pasti tidak suka mendengarnya, aku pun bosan harus terus bercerita kepada
banyak orang tentang masalah itu. Lagipula itu sudah berlalu, dan kau sudah
berada di sini. Jadi..” aku berdehem sebelum melanjutkan,”..biar aku saja yang
mengurusnya. Tidak usah khawatir. Percayalah padaku.” Kau tidak bergeming,
bahkan tidak mengisyaratkan tanda-tanda persetujuan atau penolakan.
“Aku anggap itu sebagai iya,”
jawabku sekenanya.
Ada keheningan yang mendadak mengisi
ruangan ini. Dengan dirimu yang masih betah diam dan aku seperti berbicara
dengan tembok. Aku berharap mendapatkan satu respon sederhana darimu tapi itu
mustahil. Tentu saja. Mustahil. Suara bising dari pendingin ruangan mungkin
menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, selain nafas beratku yang mencari
udara hangat. Aku memeluk diriku sendiri, mencari kehangatan di antara
gesekan-gesekan tanganku. Aku mengutuk diriku yang lupa membawa sarung tangan,
padahal aku pernah memasuki ruangan ini sebelumnya, mungkin, tiga atau empat
bulan yang lalu sebelum akhirnya kau tiba di sini. Namun aku hanya berada di
sini selama sepuluh menit untuk mengunjungi seorang kolega bersama rekanku di
kepolisian, Andi.
“Ah, aku baru ingat, Andi akan
melaksanakan pernikahannya minggu depan,” kataku setelah teringat akan undangan
pernikahannya dengan rekan sesama polisi yang ia temui ketika bertugas di luar
kota. Di undangan itu, tertulis nama belakangku, dengan imbuhan Bapak dan Ibu,
yang berarti, juga namamu, Nyonyaku.
“Dia berkoar tentang mengundang
salah seorang artis ibu kota yang paling tersohor. Aku harap itu bukan artis
yang menyogoknya untuk memuluskan langkah artis itu keluar dari jeruji penjara,
haha.” Tawaku ketika mengingat betapa aku pernah membenci rekanku itu ketika
menerima sogokan senilai puluhan juta rupiah. Aku dan Andi bahkan sempat beradu
moncong pistol karena kejadian itu. Aku berusaha menghentikannya dan dia
bersikeras untuk menerima uang itu. “Dengan uang ini aku dan Anya bisa
menikah!” katanya beralasan. Betapa naifnya Andi saat itu. Betapa konyol alasan
yang digunakannya. Gajinya sebagai polisi selama setahun saja mungkin lebih
dari cukup untuk menggelar pesta pernikahan di sebuah ballroom hotel bintang empat.
“Aku tidak menyangka junior sepertinya
akhirnya menikah juga. Meskipun dia belum mencapai puncak karir di kepolisian.
Kita hanya bisa berdoa para kriminal itu tidak mengincar Anya,” kataku. Anya
adalah seorang polisi baru di angkatan. Lulus dari akademi dengan nilai yang
biasa saja, dia ditempatkan sebagai polisi lalu lintas yang secara tidak
sengaja berada di TKP pada waktu yang salah. Hingga kemudian datang Andi atas
perintah komandan untuk mengusut kasus itu dan bertemu Anya. Saat itu, kami
baru saja menyelesaikan satu kasus penculikan yang berujung pada pembunuhan
sadis. Pembunuhan itu sempat menggegerkan kota, aku bahkan menyuruhmu untuk
mengungsi ke rumah orang tuamu untuk sementara waktu. Lima bocah berusia enam
sampai sembilan tahun lenyap, dan beberapa hari kemudian ditemukan di sebuah
sungai dengan kondisi badan yang berlubang di bagian dada. Jantung mereka
hilang. Aku dan Andi mengusut kasus itu hingga berbulan-bulan lamanya agar
dapat menemukan pelakunya. Andi sangat syok dengan kasus itu. Sebagai junior,
dia belum pernah berhadapan dengan psikopat sadis dan melihat tubuh yang
sedemikian rusaknya. Lalu datang instruksi dari komandan untuk bertugas di kota
tetangga dan Andi mengambilnya sebagai langkah untuk menjauh dari kota berdarah
ini. Setidaknya untuk sementara waktu menyegarkan otaknya dari psikopat.
Aku mengelus
rambutmu yang kusut, sepertinya sejak pindah di sini kau kurang terawat.
Tanganku menuruni rambutmu, lalu ke pipimu. Kusentuh bibirmu yang pucat dan
kering, rasanya, baru kemarin aku merasakan bibir itu memagut bibirku. Turun ke
lehermu yang jenjang, aku sedikit menekan bekas lebam berwarna keunguan di
lehermu. Rasanya, baru kemarin aku mengecup leher itu dan sedikit menggigitnya.
Tak tahan, aku membenamkan kepalaku dan melingkarkan tanganku di lehermu.
“Kau tidak perlu khawatir. Kau tidak
perlu khawatir. Aku ada di sini sekarang. Aku di sini. Kau tidak perlu
khawatir,” aku berusaha menenangkannya, padahal, jantungku berdegup sangat
kencang. Badanku gemetar, entah karena dingin atau yang lain. Seharusnya, aku yang
harus tenang sekarang.
“Aku akan menemukannya. Aku akan
menemukannya. Dan hingga saat itu tiba aku tidak akan pernah berhenti. Aku
berjanji. Kau tidak perlu khawatir. Tenanglah, aku akan selalu ada untukmu.”
Nafasku berat dan cepat, seakan aku
telah berlari ratusan kilometer. Aku mulai tenang dan bisa menguasai diri, aku
tidak boleh terbawa emosi saat ini. Yang aku butuhkan adalah ketenangan. Aku
tidak datang kemari untuk membuatmu takut, aku datang kemari untuk
mengunjungimu. Aku tidak boleh terbawa emosi. Aku harus professional.
Aku tidak menghitung berapa lama aku
sudah berada di sini, yang jelas, lebih dari sejam, mungkin dua jam. Ah, aku
tidak tahu. Waktu tidak lagi berpihak. Jika memang demikian, kau tidak akan
berada di sini, bukan? Kau akan berada di rumah, bermain piano klasik seperti
biasanya. Kau akan memainkan nada-nada indah dari instrumen favoritku, dengan
lihai jemarimu menekan tuts dan melantunkan irama dari Pachelbel Canon. Jika
memang demikian kau akan berada di rumah, bersandar pada ranjang dan menggodaku
untuk segera masuk dalam selimut. Pada kenyataannya, tidak.
Aku menggandeng tanganmu dan
menemukan cincin kawin kita masih terpagut di jari manismu. Aku tersenyum
sendiri, dan semakin memantapkan tekadku untuk menyelesaikan masalah ini. Aku
pun berjanji pada diriku sendiri. Mendadak memori-memori itu terlintas di
benakku. Tentang pertemuan kita, kebodohan yang kita lakukan, hal-hal sok romantis
yang kucoba untuk memenangkan hatimu. Tentang bagaimana aku bertemu denganmu
karena salah masuk toilet. Aku begitu mabuk hingga tak dapat melihat tanda di
toilet dengan jelas. Aku ingat sensasi sakitnya pukulan tasmu di kepalaku untuk
mengusir bajingan mesum sepertiku. Pukulan yang membuatku jatuh cinta pada
gadis kuat sepertimu. Aku juga ingat tentang bagaimana aksi heroikku untuk
membuatmu terkesan. Kasus pembajakan bis empat tahun yang lalu. Aku menyelamatkanmu
dari todongan senjata pembajak bis itu, yang harus dibayar mahal karena luka
tembak di kakiku membuatku pincang selama dua bulan lebih. Namun tak apa,
karena sejak saat itu kau mulai melihatku. Kau mulai menganggap diriku sebagai
seorang pria saja, tanpa embel-embel ugal-ugalan ataupun panggilan polisi badung.
Aku mengingat pernikahan sederhana kita di rumah orang tuamu. Aku yang paling banyak
menangis, tidak menyangka akan menikahi seorang gadis cantik, kuat, dan cerdas
sepertimu. Kau bahkan rela menunda sidang skripsimu agar kita dapat berbulan
madu. Aku ingat semprotan amarah dari atasanku ketika mengetahui aku
memperpanjang masa cutiku menjadi tiga bulan untuk menikmati waktu sebagai
seorang suami bagimu.
Sedikit
lagi ingatan itu muncul maka aku akan banjir oleh tangisan. Aku tidak boleh
emosional, aku harus professional. Aku beranjak dan mengembalikan kursi itu ke
tempat semula. Merapikan posisinya yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk
dilakukan karena tidak ada yang peduli. Kukecup kening dan pipimu untuk
terakhir kalinya sebelum beranjak menuju pintu keluar. Aku akan merindukan
bibir itu.
Kuputar
kenop pintu yang dingin itu, dan melihatmu untuk terakhir kalinya. “Selamat
tinggal, istriku,” hanya itu yang dapat kukatakan sebelum aku melesat keluar
dari ruang dingin bertuliskan kamar mayat itu dan meninggalkan jasadmu di sana
untuk beristirahat selamanya.
Istriku,
aku akan mengusut tuntas kasus kematianmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar