Senin, 23 November 2015

OPINI: Wanita dalam Islam



Manusia terlahir dengan mengemban kewajiban sebagaimana layaknya manusia lain. Namun di sisi lain, manusia juga terlahir membawa hak-hak yang bisa dipenuhinya, atau bahkan dituntutnya. Hak-hak dasar bawaan manusia itulah yang kemudian disebut sebagai Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Hak-hak tersebut berupa hak untuk hidup, hak untuk memilih, hak untuk berbicara dan banyak hak lain yang bersamaan dengan kewajiban, bahu membahu menemani manusia semasa hidupnya. HAM tersebut jika tidak dipenuhi maka akan menimbulkan masalah di lini kehidupan pemilik HAM. Sama halnya dengan kewajiban jika tidak dilaksanakan akan menimbulkan masalah. Keduanya harus seimbang dan saling melengkapi, tidak berat sebelah atau malah saling memberatkan.
            Untuk masalah HAM, saya pikir Islam adalah agama yang menjunjung nilai luhur tersebut. Islam memang memiliki kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim namun setelah kewajiban itu ditunaikan, maka setiap yang menjalankannya berhak mendapatkan hak-haknya. Ironisnya, beberapa orang masih berpikiran skeptis dan apatis tentang Islam dan mengatakan Islam adalah agama yang menindas dan memberatkan, khususnya untuk kaum wanita, yang dianggap terlecehkan dan tertekan oleh hukum Islam yang kata mereka konservatif.


Contoh sederhananya adalah kewajiban menggunakan jilbab untuk menutupi aurat mereka. Beberapa orang berpendapat bahwa hal itu menafikan kebebasan untuk berpakaian bagi wanita dan seakan mengekang akhwat muslimah untuk menjadi fashionable dan mengikuti zaman. Bahkan ada yang berpendapat bahwa menggunakan jilbab sama dengan penindasan karena menutupi keindahan makhluk ciptaan Tuhan itu.
            Pihak yang berpikir demikian, menurut saya, tidak bisa melihat sesuatu yang tersembunyi di balik aturan-aturan Islam yang memang ketat namun tetap toleran. Justru dengan kewajiban menggunakan jilbab akan menjaga keindahan yang dimiliki wanita agar tidak disalahgunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab yang suka menikmati keindahan secara gratis. Justru kewajiban itu mengapresiasi derajat wanita yang tinggi dan bukan malah menjatuhkannya. Secara logika, barang yang murah dapat dicoba dan dibeli oleh siapa saja, namun barang yang mahal akan secara eksklusif menjadi milik orang-orang yang benar-benar berhak dan memiliki modal mumpuni untuk mendapatkan barang tersebut. Namun tentu saja analogi murahan seperti itu tidak bisa semerta-merta menjadi perumpamaan yang sempurna bagi wanita. Wanita lebih dari sekedar pasir yang digenggam atau mutiara di antara pasir, serta lebih dari sekedar kembang di antara kumbang. Wanita Muslim adalah secuil bukti keindahan konkrit ciptaan Yang Maha Menciptakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar