Minggu, 08 November 2015

OPINI: Islam Agama Perdamaian


Pasca kejadian runtuhnya gedung WTC pada 11 September 2001 silam, stigmatisasi terhadap Islam semakin meluas. Tidak hanya tentang agama, namun juga menyentuh ranah politik dan sosial. Islam dilabeli dengan cap negatif, identik dengan kekerasan dan agama yang mencederai hak-hak asasi manusia. Dengan kata lain, Islam adalah agama yang barbar, tidak manusiawi dan kolot. Pandangan-pandangan seperti itu tersebar di berbagai media massa dan cetak. Saking masifnya hingga bisa membentuk opini publik bahwa Islam itu kasar. Amerika dan sekutunya bisa jadi menjadi pionir dalam pembentukan stigmatisasi Islam yang negatif, namun, yang tak kalah menarik adalah peran kelompok Islam radikal turut berpengaruh, dan kita tidak sadar akan hal itu. Amerika telah sukses melabeli Islam dengan terorisme dan kekerasan, lalu muncul kelompok-kelompok radikal ekstrimis Islam yang seakan menjustifikasi stigma tersebut. Kelompok tersebut berpegang teguh pada syari’at Islam, dan menafsirkannya secara mentah-mentah. Hingga akhirnya menyuarakan pendapat agar menolak segala sesuatu yang datang dari Barat, anti- Amerika, lawan imperialisme, perangi kaum kafir dan lain sebagainya. Kelompok tersebut menasbihkan diri sebagai pembawa agama paling benar −Islam− dan menganggap selain Islam adalah agama sesat, menyimpang dan kafir.

            Mungkin ada benarnya agama selain Islam bukanlah agama yang tepat (saya tidak mengatakan salah, atau buruk), namun, dengan perilaku kelompok-kelompok semacam itu sama sekali tidak mencerminkan Islam yang rahmatan lil’alamin. Penanaman nilai Islam dengan “tangan besi” tidak akan membawa dampak yang baik. Islam sendiri tidak pernah memaksakan umat lain untuk menerima Islam sebagai agamanya. Agamamu adalah agamamu, agamaku adalah agamaku. Kita hanya diwajibkan untuk bersyi’ar, berdakwah dan membawa pesan-pesan damai yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Nabi tidak pernah menggunakan jalan pedang jika masih ada cara lain. Dan Nabi mengeluarkan pedangnya dari sarungnya hanya untuk membela diri, bukan untuk menyerang.
            Sementara itu, apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tersebut menurut saya pribadi justru seakan membenarkan apa kata Amerika, bahwa kita ini para teroris, sukanya menebar terror, paksa sana paksa sini, membawa panji-panji Islam dengan tangan besi dan jalan pedang. Jika seperti itu, mana pesan damainya? Mana agama keselamatannya? Mana rahmatan lil’alamin seperti yang Allah katakan? Justru mereka orang Barat yang akan tertawa lebih lebar dari biasanya karena berhasil memecah belah kesatuan umat, mereka berhasil membuat perbedaan dalam tubuh Islam layaknya sel kanker yang menggerogoti sel lain dan menyebar ke mana-mana. Kita tidak akan semakin menang, kita akan kalah dari dalam. Kita akan dihancurkan oleh salah satu dari kita sendiri. Ironis, sekaligus miris, karena hal ini yang akan menjadi bahan bercandaan anak dan cucu kita nanti.
            Islam tidak sekaku yang kita pikirkan. Islam bukan agama kolot yang identik dengan pedang, jubah atau syal. Islam lebih daripada itu. Islam adalah agama yang tidak terkekang oleh ruang dan waktu. Sampai kapanpun, Islam tetap akan ada dan berjalan sebagaimana mestinya. Islam identik dengan juru selamat dan pembawa pesan kedamaian. Perbedaan bisa menjadi berkah, di sisi lain dalam titik ekstrim, bisa juga menjadi bencana jika itu dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan. Bertaruh siapa yang paling benar dan siapa yang sesungguhnya salah tidak akan pernah berhenti karena masing-masing manusia memiliki isi kepala dan keyakinannya sendiri. Dan jika secangkir kopi hangat tidak mampu menjadi penengah, entah mediasi macam apa lagi yang mampu mengucap kata “cukup”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar