Konflik antara
Israel dan Palestina sudah bergema sejak beberapa tahun yang lalu. Banyak yang
mempertanyakan asal muasal dari konflik berkepanjangan ini. Ada yang mengatakan
konflik ini adalah konflik agama, perseteruan klasik antara Islam dan Yahudi
untuk memperebutkan klaim atas tempat suci masing-masing. Islam dengan Masjid
al-Quds sementara Yahudi dengan tembok ratapannya. Bahkan ada yang mengkaji
secara historis alasan di balik invasi bangsa Yahudi, yaitu keinginan mereka
untuk menemukan kembali Kerajaan Sulaiman yang merupakan nenek moyang mereka.
Namun di satu sisi ada yang berargumen bahwa ini adalah konflik politik murni.
Dengan sokongan Amerika, baik materi dan non-materi, Israel berusaha meraih
klaim atas tanah Palestina agar memudahkan Amerika dan sekutunya dalam
menguasai wilayah Timur Tengah. Karena wilayah Palestina yang strategis secara
geopolitik, maka Amerika mendukung penuh setiap aksi Israel dan kebalikannya,
mencap Palestina dan pasukan pembela tanah airnya teroris. Sekali lagi Amerika
menggunakan kekuatan medianya untuk memenangkan hati warga dunia.
Konflik yang sudah lama terjadi ini
sebenarnya mengandung kedua unsure tersebut. Di satu sisi adalah konflik agama
dan di sisi yang lain ada kepentingan politik baik dari kedua negara atau
negara-negara lain yang secara pasif terlibat di dalamnya. Yang menjadikannya
lebih menarik adalah ketika ditarik benang merah dari sisi historis,
sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Bapak Gonda Yumitro (2015) bahwa
perebutan klaim atas hak tanah yang dijanjikan itu sudah ada sejak era para
Nabi. Dimulai ketika Nabi Ibrahim memiliki anak dari masing-masing istrinya
yang keturunannya kelak menjejakkan kaki di muka bumi sebagai para Nabi dan Rasul,
termasuk bangsa Yahudi yang sebelumnya disebut sebagai Bani Israil karena
keturunan Nabi Israil yang melahirkan Nabi-Nabi besar lain seperti Nabi Yusuf,
Nabi Dawud dan Sulaiman sang Raja. Sementara di lain pihak, keturunan Nabi
Ishaq melahirkan sosok Nabi Muhammad yang menjadi Nabi terakhir. Bangsa Israil
percaya bahwa kelahiran Ahmad, atau Nabi terakhir, akan muncul dari garis
keturunan mereka, secara mereka adalah bangsa yang terpilih oleh Tuhan
dikarenakan mulianya para pendahulu mereka. Namun ternyata Nabi yang diramalkan
justru terlahir dari keturunan Ishaq yang ibunya dianggap bukan istri sah
Ibrahim. Oleh karena itu bangsa Israil tidak terima dan membeci umat Islam
sejak saat itu.
Getolnya bangsa Israil –yang
kemudian disebut bangsa Yahudi− untuk merebut tanah Palestina adalah karena
tanah tersebut adalah the promised land Kana’an
yang telah dijelaskan dalam kitab mereka. Dan mereka sudah tidak kembali ke
tanah kelahiran mereka selama berabad-abad lamanya hingga muncul gagasan
Zionisme dari pakar Yahudi ternama pada saat itu. Esensi dari gagasannya adalah
menemukan kembali rumah bangsa Yahudi. Kemudian terpilihlah Palestina sebagai
tanah yang dijanjikan itu.
Menurut saya
pribadi, untuk dapat menyelesaikan masalah ini adalah dengan melepas cengkeraman
negara-negara dunia pertama yang memiliki kepentingan. Dengan netralitas,
masalah ini dapat dipandang secara obyektif, tidak mendukung satu klaim
tertentu atas dasar paradigma politik tetapi memang sebagaimana adanya fakta
yang terjadi di lapangan.
Diskusi tidak akan pernah terjadi
jika salah satu pihak masih panas. Oleh karena itu harus ada gencatan senjata
untuk sekedar mendengarkan apa kata lawan. Dengan catatan harus ada jaminan
bahwa perwakilan dari masing-masing pihak bersengketa tidak akan dilukai apapun
kondisinya hingga proses mediasi selesai dan mencapai kata sepakat.
Mediasi sebelumnya juga pernah
terjadi, seperti yang dilakukan oleh PBB yang akhirnya membagi wilayah itu 70%
milik Israel dan sisanya Palestina. Tentu saja warga Palestina tidak terima
dengan usulan PBB karena mereka merasa sudah berada di sana lama sejak bangsa
Israel datang, hingga mereka merasa perlu mendapatkan klaim yang lebih dan
wilayah yang lebih luas ketimbang Israel. Namun mediasi itu tidak pernah
disetujui siapapun dan tidak ada kata sepakat.
Masalah ini juga tidak akan selesai
hanya dengan membereskan pertikaian yang terjadi di permukaan, secara masalah
ini sudah berakar dari dahulu kala dan beranak pinak hingga detik ini. Perlu
ada pengkajian secara mendalam, baik secara historis dan kontemporer tentang
akar masalah ini, bagaimana ini semua bisa sebenarnya bermula dan apa
penyebabnya. Mencabut akar masalah tentu akan lebih efisien daripada memotong
dahan-dahan konflik yang senantiasa tumbuh.
Referensi:
Yumitro, Gonda,
dalam Mata Kuliah Islam dan Dunia Internasional, Malang, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar