Minggu, 08 November 2015

OPINI: Romantisme Israel dan Palestina


Konflik antara Israel dan Palestina sudah bergema sejak beberapa tahun yang lalu. Banyak yang mempertanyakan asal muasal dari konflik berkepanjangan ini. Ada yang mengatakan konflik ini adalah konflik agama, perseteruan klasik antara Islam dan Yahudi untuk memperebutkan klaim atas tempat suci masing-masing. Islam dengan Masjid al-Quds sementara Yahudi dengan tembok ratapannya. Bahkan ada yang mengkaji secara historis alasan di balik invasi bangsa Yahudi, yaitu keinginan mereka untuk menemukan kembali Kerajaan Sulaiman yang merupakan nenek moyang mereka. Namun di satu sisi ada yang berargumen bahwa ini adalah konflik politik murni. Dengan sokongan Amerika, baik materi dan non-materi, Israel berusaha meraih klaim atas tanah Palestina agar memudahkan Amerika dan sekutunya dalam menguasai wilayah Timur Tengah. Karena wilayah Palestina yang strategis secara geopolitik, maka Amerika mendukung penuh setiap aksi Israel dan kebalikannya, mencap Palestina dan pasukan pembela tanah airnya teroris. Sekali lagi Amerika menggunakan kekuatan medianya untuk memenangkan hati warga dunia.

            Konflik yang sudah lama terjadi ini sebenarnya mengandung kedua unsure tersebut. Di satu sisi adalah konflik agama dan di sisi yang lain ada kepentingan politik baik dari kedua negara atau negara-negara lain yang secara pasif terlibat di dalamnya. Yang menjadikannya lebih menarik adalah ketika ditarik benang merah dari sisi historis, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Bapak Gonda Yumitro (2015) bahwa perebutan klaim atas hak tanah yang dijanjikan itu sudah ada sejak era para Nabi. Dimulai ketika Nabi Ibrahim memiliki anak dari masing-masing istrinya yang keturunannya kelak menjejakkan kaki di muka bumi sebagai para Nabi dan Rasul, termasuk bangsa Yahudi yang sebelumnya disebut sebagai Bani Israil karena keturunan Nabi Israil yang melahirkan Nabi-Nabi besar lain seperti Nabi Yusuf, Nabi Dawud dan Sulaiman sang Raja. Sementara di lain pihak, keturunan Nabi Ishaq melahirkan sosok Nabi Muhammad yang menjadi Nabi terakhir. Bangsa Israil percaya bahwa kelahiran Ahmad, atau Nabi terakhir, akan muncul dari garis keturunan mereka, secara mereka adalah bangsa yang terpilih oleh Tuhan dikarenakan mulianya para pendahulu mereka. Namun ternyata Nabi yang diramalkan justru terlahir dari keturunan Ishaq yang ibunya dianggap bukan istri sah Ibrahim. Oleh karena itu bangsa Israil tidak terima dan membeci umat Islam sejak saat itu.
            Getolnya bangsa Israil –yang kemudian disebut bangsa Yahudi− untuk merebut tanah Palestina adalah karena tanah tersebut adalah the promised land Kana’an yang telah dijelaskan dalam kitab mereka. Dan mereka sudah tidak kembali ke tanah kelahiran mereka selama berabad-abad lamanya hingga muncul gagasan Zionisme dari pakar Yahudi ternama pada saat itu. Esensi dari gagasannya adalah menemukan kembali rumah bangsa Yahudi. Kemudian terpilihlah Palestina sebagai tanah yang dijanjikan itu.

Menurut saya pribadi, untuk dapat menyelesaikan masalah ini adalah dengan melepas cengkeraman negara-negara dunia pertama yang memiliki kepentingan. Dengan netralitas, masalah ini dapat dipandang secara obyektif, tidak mendukung satu klaim tertentu atas dasar paradigma politik tetapi memang sebagaimana adanya fakta yang terjadi di lapangan.
            Diskusi tidak akan pernah terjadi jika salah satu pihak masih panas. Oleh karena itu harus ada gencatan senjata untuk sekedar mendengarkan apa kata lawan. Dengan catatan harus ada jaminan bahwa perwakilan dari masing-masing pihak bersengketa tidak akan dilukai apapun kondisinya hingga proses mediasi selesai dan mencapai kata sepakat.
            Mediasi sebelumnya juga pernah terjadi, seperti yang dilakukan oleh PBB yang akhirnya membagi wilayah itu 70% milik Israel dan sisanya Palestina. Tentu saja warga Palestina tidak terima dengan usulan PBB karena mereka merasa sudah berada di sana lama sejak bangsa Israel datang, hingga mereka merasa perlu mendapatkan klaim yang lebih dan wilayah yang lebih luas ketimbang Israel. Namun mediasi itu tidak pernah disetujui siapapun dan tidak ada kata sepakat.
            Masalah ini juga tidak akan selesai hanya dengan membereskan pertikaian yang terjadi di permukaan, secara masalah ini sudah berakar dari dahulu kala dan beranak pinak hingga detik ini. Perlu ada pengkajian secara mendalam, baik secara historis dan kontemporer tentang akar masalah ini, bagaimana ini semua bisa sebenarnya bermula dan apa penyebabnya. Mencabut akar masalah tentu akan lebih efisien daripada memotong dahan-dahan konflik yang senantiasa tumbuh.

Referensi:
Yumitro, Gonda, dalam Mata Kuliah Islam dan Dunia Internasional, Malang, 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar